Senin, 08 April 2013

ariefcahyadi99@yahoo.com

Harga bawang putih tembus Rp50 ribu perkilo

Rabu, 13 Maret 2013 12:25 WIB | 766 Views

Seorang buruh memanggul bawang putih. Harga bawang putih sejak tiga hari terakhir melonjak hingga 30 persen dari Rp.35.000 menjadi Rp.50.000 per kilogram. (ANTARA/Basri Marzuki) Sleman (ANTARA News) - 

Harga bawang putih di tingkat pedagang di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada minggu ke dua Maret terus naik dan menembus angka Rp50 ribu per kilogram.

"Harga bawang putih minggu ini kembali merambat naik dari sebelumnya Rp45.000 per kg, saat ini telah mencapai Rp50.000 per kg untuk jenis kating dan untuk jenis sincau naik dari Rp40.000 per kg menjadi Rp45.000 per kg," kata Gunadi, grosir sembako dan kebutuhan dapur di Kalasan, Sleman, Rabu.

Menurut dia, untuk harga bawang merah minggu ini juga naik tinggi dari harga Rp21.000 per kg menjadi Rp38.000 per kg.

"Saat ini persediaan bawang putih sedikit terbatas, karena harganya mahal sehingga kami sengaja membatasi stok, selain itu harga juga masih belum stabil sehingga dikhawatirkan jika terlanjur menyetok banyak tiba-tiba harga turun," katanya.

 Pedagang di Pasar Sleman, Ny Rubinem, mengatakan harga bawang putih minggu ini kembali naik tinggi dan menembus harga Rp50.000 per kg.

"Bawang putih seperti ganti harga, karena kenaikan yang berturut turut dalam satu bulan dari semula Rp18.000 per kg hingga saat ini menembus Rp50.000 per kg," katanya.

Ia mengatakan, untuk bawang putih jenis sincau juga naik dari Rp40.000 per kg pada minggu lalu, menjadi Rp45.000 per kg.

"Sedangkan harga bawang merah juga naik sangat tinggi dari sebelumnya Rp21.000 per khg menjadi Rp38.000 per kg," katanya.
   

Kasus Impor Sapi Dijerat Pasal Pencucian Uang

http:perekonomian indonesia.


TEMPO.CO , Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan ada indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus dugaan suap impor daging sapi yang melibatkan bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaq. Menurut KPK, pencucian uang terkait dengan penerima suap.

"Dari hasil penelusuran tim penyidik berkaitan dengan pemeriksaan dan penggeledahan, termasuk penelusuran aset yang sedang dilakukan oleh KPK terhadap tersangka dugaan suap dalam urusan impor daging sapi, kemungkinan besar penyidik akan mengembangkan ke tindak pidana pencucian uang terhadap salah satu tersangka," ujar juru bicara KPK Johan Budi, Rabu malam, 6 Maret 2013.

Kesimpulan ini diambil oleh KPK setelah, tim penyidik melakukan penggeledahan di beberapa tempat. Baik itu kantor perusahaan mau pun rumah atau tempat-tempat yang menjadi milik tersangka.

Soal siapa tersangka yang dimaksud, Johan enggan menjawab. "Tentu saja ini dalam konteks si penerima bukan pemberi," katanya. Ketika Tempo menanyakan, apakah yang dimaksud adalah tersangka Lutfi Hasan, Johan menolak menjawab.

Kasus kuota impor daging sapi mencuat setelah KPK menggelar operasi tangkap tangan di Hotel Le Meredien pada 29 Januari 2013 lalu. KPK menciduk Ahmad Fathanah bersama seorang pemudi di sebuah hotel. Dari tangannya, disita uang Rp 1 miliar.

Setelah ditelisik, uang tersebut diduga berasal dari Direktur Utama Indoguna Juard Effendi dan salah satu direktur lainnya Abdi Arya Effendi.  Mereka diduga menyerahkan uang Rp 1 miliar pada Fathhanah di kantor Indoguna di kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur.

Rabu, 13 Maret 2013


Indonesia-Cina Sepakat Tingkatkan Hubungan Dagang Lebih Besar

Rabu, 21 November 2007 02:42 WIB
Berita Terkait
 
 
Singapura (ANTARA News) - Indonesia dan Cina sepakat meningkatkan hubungan kerja sama ekonomi dan politik.

Hal itu terungkap dalam pertemuan tertutup antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Cina Wen Jiabao, di sela-sela KTT ASEAN ke-13 di Singapura, Selasa.

Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal yang ikut dalam pertemuan bilateral itu mengatakan, dari tahun ke tahun "strategic partnership" di berbagai sektor kedua negara makin meningkat.

Menurut Dino, selama tahun 2007 (Januari-September) nilai perdagangan mencapai 18,5 miliar dolar AS meningkat dibanding periode sama tahun 2006.

Tingginya komitmen kemitraan kedua negara mendorong optimisme bahwa nilai perdagangan terus meningkat.

Proyeksi resmi nilai perdagangan kedua negara pada 2007 diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS, namun Presiden Yudhoyono memberikan nilainya dapat berlipat hingga 10 miliar atau menjadi 30 miliar dolar AS pada 2010.

Pada kesempatan itu, pemerintah Cina memberikan pinjaman lunak sebesar 200 juta dolar AS kepada pemerintah Indonesia.

Pertemuan kepala negara merupakan yang kedua kalinya selama tahun 2007, setelah sebelumnya Presiden Yudhoyono berkunjung ke Beijing beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu, kedua Kepala Pemerintahan itu menyatakan antusias melanjutkan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Cina.

"Kedua negara ingin berkonsultasi intensif dengan para pejabat di bidang pertahanan, pejabat militer," kata Dino.

Selain itu juga dibahas perjanjian ekstradisi yang telah mencapai kesepakatan, namun belum bisa ditandatangani.

Perjanjian ekstradisi yang tinggal menunggu penandatanganan itu menurut Dino tidak mengalami proses yang berbelit, sehingga dengan mudah difinalisasi dan diharapkan menjadi model kerjasama ekstradisi dengan negara lain.

Presiden yang didampingi Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, juga mengajak para perusahaan energi dari Cina aktif bekerja sama bidang eksplorasi dan produksi migas serta bahan bakar yang dapat diperbarui seperti biofuel.

Di sela-sela pembicaraan juga terlontar upaya penyelesaian gejolak yang terjadi di Myanmar. (*)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2013
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Bursa saham Tokyo ditutup melemah 0,61 persen

Bursa saham Tokyo ditutup melemah 0,61 persenBursa saham Tokyo ditutup melemah 0,61 persen pada Rabu, setelah kinerja Wall Street bervariasi, dengan kenaikan yen ...

Menko Perekonomian minta tata niaga bawang dibenahi

Menko Perekonomian minta tata niaga bawang dibenahiMenko Perekonomian Hatta Rajasa meminta Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan agar memperbaiki sejumlah ...

Presiden bertemu KEN bahas pergerakan harga pangan

Presiden bertemu KEN bahas pergerakan harga panganPresiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan dengan Komite Ekonomi Nasional (KEN) untuk membahas tiga isu ...

Selasa, 23 Oktober 2012

buaya perampok


Buaya Perompak

Cerita dari Lampung
Buaya Perompak adalah seekor buaya jadi-jadian yang dulu pernah menghuni Sungai Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Indonesia. Buaya jadi-jadian ini terkenal sangat ganas. Konon, sudah banyak manusia yang menjadi korban keganasan buaya itu. Pada suatu hari, seorang gadis rupawan yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang. Benarkah Buaya itu yang menculik Aminah? Lalu bagaimana dengan nasib Aminah selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Buaya Perompak berikut ini!

Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.
Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.
“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.
Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.
“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?” tanya Aminah dalam hati.
Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema.
“Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”
Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.
“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut.
“Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.
“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu.
“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu.
“Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya Aminah.
“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.
Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.
“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu.
“Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah.
“Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah
“Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu.
“Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran.
“Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.
Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung.
“Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak.
Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan.
“Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.
Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu.
“Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju.
Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.
Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.
Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati.
Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.
“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,” Aminah berucap syukur.
Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan.
“Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.
“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah.
Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.
Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang.
Demikian cerita Buaya Perompak dari darah Tulang Bawang, Lampung, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu, keutamaan sifat tidak mudah putus asa dan keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain.
Pertama, keutamaan sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Aminah yang tidak mudah putus asa menghadapi ancaman Buaya Perompak. Dengan kecerdikannya, ia pun berhasil mengelabui Buaya Perompak itu dan berhasil menyelamatkan diri. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat tidak mudah putus asa dapat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih.
Kedua, keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Somad (perompak) yang senantiasa merampas harta benda setiap penduduk yang melewati Sungai Tulang Bawang. Akibat perbuatan jahatnya tersebut, ia pun terkena kutukan menjadi seekor buaya. Dalam kehidupan orang Melayu, merampas hak milik orang lain merupakan perbuatan keji dan sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa merampas hak milik orang,
azabnya keras bukan kepalang